FEBRI
“Panjang umur…bu lik baru aja ngomongin sampeyan. Kemana aja, baru ka sini?” Sepasang Ibu dan Bapak paruh baya pengelola warung Lamongan “Febri” menyambutku sesaat setelah aku masuk. Tawa mereka masih tersisa di tengah gemerecik minyak goreng.
“Setiap mau kesini saya liat tutup terus.” jawabku setelah duduk. Tempat favoritku di depan pintu masuk. duduk membelakangi jalan dan menghadap pemilik warung. Ada tiga kursi di meja itu. Aku pilih kursi paling kanan agar pandanganku tidak terhalang sekat papan di depan. Sambil nunggu pesanan datang aku bisa leluasa memperhatikan aktifitas mereka di dalam ‘kabin’.
“Iya, mas. Lagi ada acara.” Jawab si Bapak sambil melintas di sampingku mengantarkan pesanan tamu lain.
“Lusa juga kita ga jualan lagi selama tiga hari. Ada acara nikahan sodara.” Sambung si Ibu. Aku biasa manggil ‘Bu Lik’ (baca: bu Le’).
Aku hanya ber-ooooooo…..”Aku pesen udang goreng, Bu Lik.” Menu pavoritku di sini.
Warung ini rekomendasi dari temenku di Samarinda. Lokasinya di Jl. AW. Syahrani berseberangan persisi dengan SMKN 2 Samarinda. Tempatnya sederhana seperti pada umumnya warung lamongan. Atapnya terpal dengan tiang-tiang kayu sebagai penyanggah. Pada sisi samping dan depan ditutupi dengan kain warna kuning bergambar binatang-binatang yang menjadi menu makanan. Aku enggak tau kenapa harus warna kuning. Sepertinya sudah menjadi sebuah kesepakatan antar pemilik warung Lamongan untuk memakai kain kuning. Hampir semuanya seperti itu.
Barisan meja panjang dan kursi plastik. Di sini ada tiga buah meja panjang. Dan satu meja khusus dengan tiga buah kursi yang aku ceritakan tadi. Tempat pavoritku. Masakannya sama aja seperti yang warung lain, menyediakan goreng-gorengan; ayam, bebek, udang, nila, kepiting dan lain-lain. Yang membedakan warung Lamongan satu dengan yang lainnya adalah sambalnya. Kekhasan sambal Lamongan itu tidak pedas. Menurut cerita rahasianya adalah pada terasi yang digunakannya. Yaitu terasi khusus yang diproduksi di daerah Ngaklik, Brondong Lamongan dan daerah Tuban. Terasi kualitas ekspor. Tidak dijual bebas. Malaysia, Singapura dan Vietnam adalah negara tujuan ekspornya. Ada banyak warung Lamongan di Samarinda ini. Aku pilih warung Lamongan ‘febri’ karena aksesnya yang mudah dan tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Lima belas menit berkendaraan sudah sampai. Ada juga sih yang lebih dekat, warung Lamongan ‘Wahyu’ di sekitaran Sempaja tapi jalannya sempit dan parkir susah.
Warung selera rakyat. Siapa menyangka bahwa usaha seperti itu bisa memberikan kontribusi 30 sampai 50 persen Produk Domestik Bruto (PDB)….
